Menikah Muda(h)?

Isu yang selalu hangat dan menarik untuk diperbincangkan dan menjadi bahasan yang tidak pernah bosan disematkan pada sela-sela pertemuan dengan teman–terutama bagi kalangan muda adalah tentang menikah, apalagi soal menikah muda. Ahir-ahir ini banyak pihak dan komunitas Islam (utamanya) yang menyerukan untuk menikah muda, dengan dalih ”daripada berzinah lebih baik menikah muda”. Campaign tentang menikah muda banyak yang hanya melulu menyerukan tentang hal baik dan indahnya saja, tanpa memberikan dampak dan kemungkinan hal yang akan dihadapi dalam bahtera rumah tangga.

Menikah bukanlah perkara mudah. Banyak persiapan berupa ilmu, mental, finansial serta persiapan penting lainnya. Membangun bahtera rumah tangga sangat membutuhkan kedewasaan yang cukup dan kedewasaan seseorang tidak dapat diukur melalui umur. Tingkat kedewasaan seseorang sangat bergantung pada pengalaman, lingkungan sosial dan seberapa banyak ilmu yang sudah didapatkannya. Memang banyak sekali manfaat menikah muda; dapat menjaga diri, memiliki partner yang akan selalu sedia menemani, saling support dalam kondisi apapun dan tidak merasa sendiri, karena tidur tidak lagi sendiri.

Menikah di usia muda memang seru dan menyenangkan bagi sebagian orang khususnya mereka yang menikah dengan persiapan matang. Tetapi, bagi sebagian yang lain boleh jadi hal ini menjadi satu petaka besar. Sebab, pada realitanya tak sedikit juga rumah tangga yang menikah di usia muda berujung dengan perceraian. Menikah beberapa bulan, bertengkar, saling kecewa, menyesali pernikahan lalu memilih bercerai

Perikahan adalah ibarat melakukan perjalan panjang yang mungkin kita tidak akan dapat kembali lagi. Dan untuk melakukan itu tentunya dibutuhkan bekal yang sangat besar dan persiapan yang sangat matang. Jika kita memaksakannya, dengan tetap berjalan dengan bekal seadanya dan tanpa persiapan maka bersiap-siaplah untuk menyesal. Entah itu nyasar di perjalanan, kehabisan energi atau bahkan kembali pulang lagi. Tentunya hal seperti itu sangat tidak kita harapkan.

Dengan melihat teman yang menikah di usia awal dua puluhan atau bahkan belasan tidak berarti kita harus mencontoh dan mengikutinya. Menikah bukan perkara memilih guru prifat yang dapat di ganti berkali kali jika menemui ketidak cocokan. Menikah adalah janji sakral yang dengan nya lah (pasangan kita) kita akan hidup bersama sampai maut memisahkan. Tentu tidak ada yang menginginkan memiliki banyak bekas pasangan bukan?.

Selagi masih muda dan memiliki banyak waktu untuk mencetak prestasi dan pengalaman, akan lebih baik jika kita selalu meng-upgrade kualitas diri, ilmu, serta bekal agama yang utamanya ilmu tentang pernikahan, perental, dan hal yang menyangkut dengan urusan rumah tangga.**

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked *.

%d bloggers like this: